Mengenai Saya

Foto saya
Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang – orang yang tetap mendirikan sholat,ya Tuhanku perkenankanlah doaku , ya Tuhanku beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan seluruh orang mukmin, pada hari terjadinya hisab. saya adalah sosok yang sederhana,semoga dapat cepat beradaptasi dengan lingkungan nya..yang paling penting adalah menjaga ukhuwah sesasamanya,karena dngan hidup rukun berdampingan,kita akan merasa nyaman,dapat beraktivitas dengan tanpa harus merasa cemas,takut,ataupun lain nya,,, .......

Senin, 09 Mei 2011

Pesona Wanita

Wanita. Kata yang melahirkan pesona. Sepadan dengan purnama kala sempurna.  Atau hamparan bunga aneka warna. Seperti juga pelangi di langit jingga. Atau taburan gemintang di angkasa raya.  Selaras dengan rinai gerimis kala senja .  Sama dengan riak ombak di pasir putih nan lembut. Atau kemilau langit biru beralas hamparan rumput.  Hanya satu saja judulnya. Pesona.  Seperti itu memang eksistensi wanita. Penuh pesona.  Tak habis-habis.  Pesona yang melahirkan pesona. Fi ahsani taqwim.  Dalam kontek kewanitaan mungkin maknanya adalah pesona. Penciptaan yang penuh pesona. Pesona yang Allah hadirkan dalam wujud wanita. Secara fisik dan jiwa. Akal dan akhlaknya. Sikap dan nalurinya. Bahkan juga tangisnya.  Sungguh, wanita memang penuh pesona. Itulah mengapa Allah muliakan wanita. Dengan setinggi-tinggi kemuliaan. Karna pesonanya tak boleh ternoda. Karna pesonanya harus selalu terjaga.  Dan Allah ciptakan wanita yang penuh pesona. Allah-pun turunkan syariat untuk menjaga pesonanya.  Agar tetap suci abadi. Agar tetap sebagai wanita sejati.

Wanita. Pesona sejatinya adalah dirinya.  Diri manusiawinya.  Tidak berhubungan dengan fisiknya. Wajah dan hartanya.  Kedudukan dan nasabnya.  Ilmu dan kepandaiannya. Tidak sama sekali. Tapi berhubungan dengan jiwanya.  Jiwa yang bercahaya.  Cahaya sejatinya. Cahaya imannya.  Wadah jiwa yang penuh cahaya itu akan tumpah ruah melahirkan pesona;  membentuk kata dan sapa.  Mewarnai canda dan tawa.  Meneguhkan tatap dan sikap.  Meluncur dalam dzikir dan fikir.  Membunga dalam cita dan cinta.  Membatu dalam tegar dan sabar.  Menumbuh dalam kasih dan asih.  Mengekar dalam duka nestapa. Mengokoh dalam derap langkah. Membara dalam  azam dan semangatnya.

Duhai Wanita… Betapa ketinggian telah Allah tempatkan. Kemuliaan telah Allah berikan. Ketaqwaan telah Allah semaikan. Dan kedahsyatan telah Allah tumbuhkan.  Sadarkah betapa Allah telah lumuri dirimu dengan cahaya.  Telah ditiupkan bibit imana nan kokoh. Telah Allah bungkus dengan pesona. Betapa penting status yang Allah amanahkan padamu. Ibu dan istri

Wanita. Sebagai istri dan ibu. Dua peran yang takan tergantikan apapun harta. Berapapun harga. Tidak emas. Tidak juga permata.  Meski digadai semua isi dunia.  Takan bisa terbeli. Istri dan ibu adalah anugerah Ilahi. Puncak kemuliaan kewanitaan. Meski sejak lama kaum feminis mencoba merampas  eksistensi istri dan ibu muslimah.  Menodai kemuliaannya. Menghina keberadaannya. Terus dan terus mereka berusaha. Mengelabui wanita.  Menjadikannya budak cita-cita dan ambisi. Menjadi hamba hawa nafsunya sendiri.  Berdalih demi sebuah eksistensi. Disaat yang sama ia jadikan emansipasi sebagai senjata. Untuk melawan kodrat kemuliaannya. Dan menghinakan dirinya.  Sehina-hinanya. Sungguh jerat feminisme sedemikian halusnya. Namun sedemikian dahsyat akibatnya.

Allah menempatkan istri dan ibu sebagai wasilah kemuliaan wanita.  Sebagai penjagaan atas kemuliaannya yang penuh pesona. Seorang istri menjadi mitra suami.  Bersinergi dalam kebaikan. Melayani segala kebutuhan. Memenej rumahtangga. Sampai Allah tegaskan,  jika penghambaan dibolehkan. Maka istri yang mesti menghamba pada suami. Kenyataannya tidak. Hanya seandainya. Itulah sesungguhnya realita hidup.  Sebuah pembagian job. Berdasar gender dan kecenderungan kodrati. Seperti juga seorang ibu Allah muliakan.  Karna perjuangan yang luar biasa dalam kehamilan.  Pertaruhan nyawa dalam kelahiran.  Kegigihannya mendidik putra-putri. Sedalam kasih sayangnya. Seluas cintanya. Ketulusannya memberi. Keredhoaanya menerima. Hingga layak menempatkan surga di bawah tapak kaki ibunda.

Duhai Wanita… Duhai Bunda… Duhai Istri… jangan mau masuk dalam jebakan mereka. Pembodohan materi. Ketinggian cita-cita. Kesamaan derajat. Kebebasan memilih. Kemandirian. Kemanusiaan. Dan beragam slogan palsu lainnya. Berjuta jerat setan menanti mangsanya. Dan kau akan tercampakan ke jurang gelap nan mengerikan. Akan dihina dengan kehinaan yang mengenaskan. Sebagai budak harta dan materi. budak ilmu dan peradaban. Budak  cita-cita dan ambisi. Budak diri sendiri. Padahal, Engkaulah sebaik-baik makhluk. Kala berbangga sebagai wanita. Sebagai bunda dan istri. Berbangga dengan amanah Ilahiyah yang kau semat. Tugas yang kau pegang erat. Meski keseharian berbalut letih dan penat. Namun keimanan sebagai sumber kebanggaan semua.

Duhai wanita… semoga Allah melindungi kemuliaanmu. Menambah kesabaranmu.  Menguatkan amalmu. Menjaga pesonamu. Selamanya. Hingga Allah kelak menempatkanmu. Dalam istana cahaya,  di surga-Nya. aamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar