Wahai Pecandu sujud... Berlehalah pada udara pengabdian... Kemudian terlena pada detik-detik penghambaan... Ia memabukkanmu pada sebuah Cinta... Dan menerbangkanmu ke rengkuh kasih Sang Kekasih... Khawatirmu, dihilangkan... IA pula Menenangkan... Kau datang dengan tanya... Dan pergi tanpa hampa... Sebuah jawaban penyejuk... Dalam sebuah sujud... Dan tiada lagi ragu... Dan resah di hatiku...
Wahai kelana dunia... Tempalah raga pada 1/3 sunyi... Dengan mencabut darinya sebuah lelap... Dan merampas selembar kantuknya... Lalu paksakan jasad itu mendemonstrasikan cinta... Menampilkan atraksi rasa... Pada sebuah persinggahan rindu... Namun jangan biar raga bersendiri... Dalam persembahannya... Sandingkan ia dengan hati dan jiwa... Pada sebuah pelaminan hamba...
Bersama tarian sang hujan... Siapakah Fulan... Yang dibangunkan, kemudian tahajud? Siapakah Fulana, yang merendah mengharap hikmah dalam sujud? Fulan dan Fulana... Malam ini ada cinta di hati mereka... Terjalin pada sebuah titik rasa... Cita besar pada asa... Rindu syahdu dalam do'a... Fulan dan Fulana... Sedang jatuh cinta... Pada Sang Maha segala... Rabbanã... Aku juga ingin jatuh CINTA...
Sang gelap mengheningkan cipta... Dan kaca bening pecah berderai... Kesyahduan sunyi memaksa insani memerah rasa... Tak ingin jatuh pada kecewa... Melewati masa sepi tanpa arti... Sedangkan telah ditaburkan sejuta cinta pada lekuk-lekuk malam... Dan engkaulah pejuang... Segera kumpulkan cinta... Sebanyak kau bisa...
Duhai para pejuang... Derita bangun adalah pada deraan kantuk... Ia merayumu untuk mundur dan lelap... Malas adalah onak duri... Yang menghalangimu... Untuk menyerah dan lemah... Musuh jiwa adalah syaithan yang nyata... Mengiringmu untuk kalah dalam tidur yang lena... mereka harus kccewa malam ini... Sperti kemarin dan esok nanti... Bawa luka-luka perangmu... Dibiarkan Sang Maha Pnyembuh mengobatinya... Dengan Basuhan CINTA...
Mengalirkan do'a pada arus hening... Menghanyutkan asa di ombak sunyi... Menderaskan harap pada gelombang sepi... Hentilah di samudra ini... Pada ujung diam di tepi malam... Untuk menyelami samudra penghambaan...
Gelap ini hampir usai... Diputus terang... Senandung dzikir mengiring malam kembali keperaduan... Dan insan beriman... Sebaiknya menguatkan mujahadahnya... Untuk mencuri Perhatian Sang Maha Cinta... Dengan sujud-sujud menghamba... Agar kembali ke dunia insani... tanpa merugi... Dan DIA selalu menanti... Kita kembali... Menyerah diri...
Wahai Indonesia... Bangkitlah... Malam menyarumu tuk kembali mengukir asa... Akankah kau gores pada gelap... Sejarah indah tentang harapan... Ia mendayu pada kidung-kidung sunyi... Menguap menuju langit... Dan terungkap pintunya hanya dengan sujud... Sedangkan Palestina... melawan musuhnya... Dengan snjata do'a dan peluru tahajjud... Maka muntahkan amunisi malam ini... Kita harus bisa... Harapan masih ada...
Sumber : http://nowilkirin.blogspot.com/
Wahai kelana dunia... Tempalah raga pada 1/3 sunyi... Dengan mencabut darinya sebuah lelap... Dan merampas selembar kantuknya... Lalu paksakan jasad itu mendemonstrasikan cinta... Menampilkan atraksi rasa... Pada sebuah persinggahan rindu... Namun jangan biar raga bersendiri... Dalam persembahannya... Sandingkan ia dengan hati dan jiwa... Pada sebuah pelaminan hamba...
Bersama tarian sang hujan... Siapakah Fulan... Yang dibangunkan, kemudian tahajud? Siapakah Fulana, yang merendah mengharap hikmah dalam sujud? Fulan dan Fulana... Malam ini ada cinta di hati mereka... Terjalin pada sebuah titik rasa... Cita besar pada asa... Rindu syahdu dalam do'a... Fulan dan Fulana... Sedang jatuh cinta... Pada Sang Maha segala... Rabbanã... Aku juga ingin jatuh CINTA...
Sang gelap mengheningkan cipta... Dan kaca bening pecah berderai... Kesyahduan sunyi memaksa insani memerah rasa... Tak ingin jatuh pada kecewa... Melewati masa sepi tanpa arti... Sedangkan telah ditaburkan sejuta cinta pada lekuk-lekuk malam... Dan engkaulah pejuang... Segera kumpulkan cinta... Sebanyak kau bisa...
Duhai para pejuang... Derita bangun adalah pada deraan kantuk... Ia merayumu untuk mundur dan lelap... Malas adalah onak duri... Yang menghalangimu... Untuk menyerah dan lemah... Musuh jiwa adalah syaithan yang nyata... Mengiringmu untuk kalah dalam tidur yang lena... mereka harus kccewa malam ini... Sperti kemarin dan esok nanti... Bawa luka-luka perangmu... Dibiarkan Sang Maha Pnyembuh mengobatinya... Dengan Basuhan CINTA...
Mengalirkan do'a pada arus hening... Menghanyutkan asa di ombak sunyi... Menderaskan harap pada gelombang sepi... Hentilah di samudra ini... Pada ujung diam di tepi malam... Untuk menyelami samudra penghambaan...
Gelap ini hampir usai... Diputus terang... Senandung dzikir mengiring malam kembali keperaduan... Dan insan beriman... Sebaiknya menguatkan mujahadahnya... Untuk mencuri Perhatian Sang Maha Cinta... Dengan sujud-sujud menghamba... Agar kembali ke dunia insani... tanpa merugi... Dan DIA selalu menanti... Kita kembali... Menyerah diri...
Wahai Indonesia... Bangkitlah... Malam menyarumu tuk kembali mengukir asa... Akankah kau gores pada gelap... Sejarah indah tentang harapan... Ia mendayu pada kidung-kidung sunyi... Menguap menuju langit... Dan terungkap pintunya hanya dengan sujud... Sedangkan Palestina... melawan musuhnya... Dengan snjata do'a dan peluru tahajjud... Maka muntahkan amunisi malam ini... Kita harus bisa... Harapan masih ada...
Sumber : http://nowilkirin.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar